i'am so special

Selasa, 11 Desember 2012

-->
Aku belum selesai
Selama kau masih menemaniku, berbagi semua rasa cinta
Ku kan selalu berusaha tuk selalu membuatmu bahagia,bersamaku, hanya bersamaku.
Tak peduli aku siapa didalam hidupmu….
Dan pabila disuatu hari nanti tak ada yang terpilih diantara dua
pabila jua suatu hari nanti ku telah ada yang memiliki “ingatlah aku tetap mencintaimu, kamu tetap selalu ada dihatiku, ku tetap memikirkanmu, kau tetap aku ingat”
pabila suatu hari nanti kau bertemu denganku, lihat sosokku dan ingatlah “aku yang belum selesai tuk mengukir dan melukis cinta di hatimu” aku belum selesai…….
Dan sampai kapan pun jua, sampai nadi, jantung tak berirama, nafas tak berhembus, mata tertutup tenang dan sampai hati lumpuh total atas semua rasa, aku belum selesai tuk melukis dan mengukir cinta ini, karna sampai aku ada di alam lain pun ku kan terus melukis dan mengukirnya cuma untuk kamu seorang….
( sa’at ku merasa dalamnya cinta ku ini untunya)



"harus kenapa?"

-->
Kenapa tuhan me nciptakan ada temu, ada pisah
Ada awal, ada akhir
Ada hidup yang manis dan mati yang memilukan dan menghilangkan kesadaran kenyataan...
Mulut berucap hal yang mustahil kepada sang penguasa manisnya cinta abadi
” wahai tuhaaaan, jangan pisahkanku dengan dia yang sudah mengikatku dengan kuatnya ikatan cinta dan sayang kepadanya ”
Malaikat pun ikut menjawab ” hal semu, perpisahan itu pasti terjadi walau cintaku seputih salju dan awan yang ada, semanis lebah mengecup kuncup bunga mawar putih”
Aku pun tertunduk......
Aku mengukir kata dikertas layaknya daun kering lusuh, dengan tinta pena yang membantuku mengungkapkan keinginan-keinginan yang mungkinkah di ijabah sang khalik???
PABILA, ada temu ada pisah, awal akhir, serta ada hidup dan mati
Aku kan meminta...
Lumpuhkan tanganku agarku selalu menggengam jemari tangannya yang selalu mengelus kepala q saat q dihimpit sakit dan lelah
Matikan rasa-rasa dihatiku kecuali hanya ada rasa cinta saja padanya
Pabila aku diujung akhir detak jantung dan nafas, malaikat disamping q, mendampingi berpisahnya jiwa dan raga , q hanya ingin kau kutuk hatiku agar selalu mencintainya walau sampai tempat peristirahatan terakhirku tertabur beribu harumnya kelopak bunga-bunga, selamanya...


-->
Pahitnya keadilan ini
Aku di sini yang menahan perihnya cinta yang menendang batin ini
Tak tahan atas apa yang ku rasa
Harus kah aku yang menahan ini
Aku menunggunya langit
Aku menanti kepastiannya bintang
Aku buta akan rasa hatinya
Di benaknya masih ada dia
Disisi lain aku berpihak dengan berjuta beban batin
Atas apa yang ku tau dari apa apa yang dia rasa.
Aku yang tersakiti, DAN INI ADIL, HANYA AKU RASA…
Demi bumi dan langit, berjuta gejolak rasa bahagia sesak atas tawanya dari diriku.
Aku tersakiti Tuhaaannnn
Aku di belakang bulaaannnnn
Aku menangis cintaaaaa
Aku terisak beban batin malaaaaammmmmmmm
Aku mencintainya, sumpah
Aku menunggu, dengan seretan sayang dan cinta yang dia bawa tuk aku
Aku sakiiiiiiiiittttttttttttttt
Aku llleeeeeeeeemmmmmaaaah
Aku lelaaahhhhh..
Aku seperti menonton, dan menyaksikan sakit dan perihku sendiri…
Knapa ini Tuhan???
Ada apa dengan diriku
Sampai kapan aku meneguk kepahitan ini…
Merasakan beban kata “ ini bagaimna si jalan dan kepastiannya??” dan kalimat itu selalu mendapingi hari-hariku, waktu2 ku yang penuh cinta untuknya….
Tak melihatkah aku disini yang merasakan lemah dan pahitnya kenyataan
Sedangkan aku mencintaimu???
Seandainya aku ingin lepas
Itu pun aku tak bisa
Aku sudah terlanjur janji
Aku sudah terlalu jauh berjalan diiringi air mata, di temani pahit, dan adilnya jalan cerita cintaku ini
Dan haruskah aku yang merasakan pahit ini
Danharuskah dia tenang tanpa tau apa2 dan diselimuti dengan indahnya cinta yang kau berikan tuknya??
Dan kata sang pencipta cinta
“INI ADIL UNTUKMU ………….”
“Karna cinta mu kepadanya”
(sa’at mata ini menatap, betapa pedihnya melihat 2 cinta, dan itu bukan aku)




"tak akan q biarkan"

-->
Saat kau tak melihat batin ku terisak
Saat kau buta akan jerit hatiku
Saat kau hembuskan udara dan meruntuhkan semua susunan cinta dan harapan
Disaat itu pula lah aku terduduk mengalirkan air mata tanda kepasrahan
Mencoba tuk takan berubah
Walau ini terjadi
Hati pun sakit
lautan pun menangis
Batin ini pun terbebani
samudra pun mengering
air mata mengalir tanda kesakitan jiwa
bintang, bulan dan matahari pun enggan tersenyum mengeluarkan cahaya
kehilangan pun menjadi teman penghias hari2 dan waktu
membisukan kicauan burung pagi
amarah batin pun perang menyalahkan dan berat tuk terima kenyataan
seperti perihnya berbu tamparan.
Karna fikiran, batin, hati, jiwa, dan seluruh hayatku kan selalu mengingatmu tanpa pernah melupakanmu seumur hidupku
takkanku biarkan lautan menangis
Samudra mengering
Bintang, bulan dan matahari tak bersinar
Burung tak bernyanyi dengan kicauanx
Takku biarkan rasa sakit tamparan dirasakan oleh kedua jiwa yang membisu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar