aku masih berpihak dihati itu
aku masih mengharap hati itu
aku masih mengharap...
aku tau itu semu
aku tau itu hanya angin
tapi hatiku masih saja berharap
biarkan aku saperti ini
biarkan aku seperti ini
besok, ntah kapan
ada saja waktunya aku tak seperti ini lagi
tak lagi memikirkan hati itu
tak memikirkan sosok itu
tak lagi mau tau tentang yang indah dan semunya dirimu
hati yang tak lagi berharap
karena besok, ntah kapan aku tak akan seperti ini lagi
maka. saat ini, biarkan aku berharap, mencintai, menyayangi dan menginginkanmu dalam diam.
Cerita - cerita pendekku
Mari Berteman :) Perkenalkan aku "Reny Rean" Nice to meet u ...
i'am so special
Senin, 03 Juni 2013
Senin, 13 Mei 2013
segalanya dalam 10 menit
Saat
melihat kedua mempelai itu tiba – tiba kenangan dulu tanpa beraturan menyesaki
otakku…
Menit
pertama, saat itu tangankulah yang pertama kali dia jabat, suara itu akrab
membujuk diri berkeinginan untuk semakin mendekat, saat itu senyumnya damai berbalut
manis, tatapan itu saling memasuki retina masing – masing beradu hingga
bermunculanlah diskusi hati yang masih mudah untuk diabaikan.
Menit
ketiga, dulu ada kekuatan yang dipaksakan disertai malu dan suara yang pelan
serta berhati – hati memanggil namaku “Reeyyy…” lalu aku menoleh kearah suara,
penglihatan mata memberi aliran listrik yang dirasa pada hatiku membuatku
bahagia, ya hanya dengan “panggilan
namaku itu”. Aku hanya tersenyum, senyum yang didalamnya penuh kebahagian,
penuh tanya ada apa??, penuh pengungkapan “rio
memanggilku”. “bisa bantu aku untuk menyelesaikan soal nomer 2 dengan rumus
ini?”. Mungkin tak usah aku jabarkan betapa bahagianya aku saat itu, duduk
berdua, saling menyelesaikan soal pelajaran, selesainya kita berbagi cerita,
dia tak perlu tau saat itu betapa aku menyukai senyumnya, leluconnya dan semua
tanya dari dia tentang diriku.
Menit
kelima, aku ingat dulu didalam kelas saat pelajaran, mata kami saling beradu,
bertatap selalu tanpa sengaja. Selepas pulang dari kantin langkahku terhenti
karna ada yang memanggil namaku dari tengah lapangan basket “reeyfaa”, aku
hanya tersenyum dan menaikan alis memberi isyarat “ada apa rio?” rio hanya tersenyum menggeleng sembari memainkan bola
basket yang ada ditangannya dan aku berlalu dengan sisa suara
“cciiiiiiiieeeeeeeeeee” dari anak – anak basket yang ada dilapangan saat itu
juga.
Menit
ketujuh, “udahaan ah rioo, malu tau, akukan jelek!” rio tak menghiraukan, blits
cameranya tetap menyerang wajahku, dia asik sekali dengan kerjaannya seperti
ini, aku semakin tak enak, aku memegang tangannya untuk menurunkan kamera yang
ada didepan mukanya, tanpa sadar ternyata saat itu aku telah menyentuh
tangannya, lalu buru – buru melepaskan, ada senyum gugup dibibirku dan bibir
rio saat itu, ditengah alang – alang itu kita duduk bersampingan, dekat. “kamu
tau apa alasanku seperti ini” ujar rio masih memegang cameranya, “apaa?”
jawabku singkat menikmati angin yang memainkan rambut pirangku, dia menunjukkan
hasil foto – fotoku didisplay cameranya,”aku suka segalanya yang ada di kamu
reyfa, aku suka semua yang alami dari kamu, aku suka merah alami dibibir
tipismu, aku suka pipi merahmu, aku suka wajah putih alamimu, aku suka rambut
pirang alamimu, dan aku tau semua tanpa olesan make up dan aku suka kecerdasan serta
kesopan yang kamu miliki”. Saat itu pulalah aku tertegun bahagia, lelaki yang
aku sukai ini mengungkapkan itu padaku, “tidakkah
kamu mengungkapkan rasa hatimu dengan aku rio” hatiku berguman
Menit
kesepuluh, “kamu mau kemana? Inikan jam mata pelajaran yang kedua” aku bertemu
rio dikoridor sekolah membawa tas ranselnya, tiba – tiba rio memegang pipiku,
tanpa senyum , seperti ada yang retak dimatanya, ya air mata yang siap menetes,
aku bingung. “kenpaa?” aku memegang tangan rio yang masih dipipiku, “kamu mau
kemana” saat itu rasa hatiku tak karuan, seakan sebentar lagi ada sesuatu yang
aku cinta dan dia siap meninggalknku, rio mengambil tangan kananku, meletakkan
sesuatu dan jemari rio menuntun jemariku untuk menutup apa yang dia berikan,
berlahan aku buka, cincin! “maksudnya?” aku bingung, tanpa penjelasan rio
langsung berlalu, “rioooo” aku berlari mengejarnya “jelasin keaku kamu kenapa,
mau kemana, kamu mau ninggalin akuu?”tnpa sadar air mataku mengalir. “bila kita
jodoh kita pasti ketemu lagi, kita pasti sama – sama lagi bahkan mungkin akan
lebih dari ini, lebih dari teman” itulah ungkapan rio yang terakhir dan aku
hanya menjawabnya dengan air mata
Sekarang
dan saat ini aku tersadar, itu dulu saat SMA dan sekarang aku bertemu rio
kembali, dia tepat dihadapanku, jarakku dengan dia tak lebih dari 15 cm, dia
tampan sekali menggunakan jas berdasi, namun aku rapuh, namun aku hancur.
“selamat
ya rio, aku ikut bahagia, kalian cocok, kalian serasi” aku menyalami tangan rio
dengan jari manis tangan kananku yang masih melingkar cincin pemberian rio
dulu, aku lirih berbalut hati yang kuat dan mata yang aku tahan untuk tidak
menjatuhkan mutiara dari dalamnya, rio hanya tertegun, ada raut tak rela dari
wajahnya.
“reyfaa
sayaang makasih sudah datang yaa.. hari ini aku seneng banget” soraya memeluk
dan menciumiku saat aku dimempelai wanita, istrinya rio dan tepatnya soraya
adalah sepupu jauhku yang setelah lulus SMA berkuliah damsterdam lalu bertemu
dengan rio disana. Aku kembali menatap rio, hatiku hancur, orang yang selama
ini aku tunggu ternyata tak untuk aku.
Aku
langsung berlari keluar ruangan menuju halaman belakang gedung, sejadi –
jadinya aku menangis disana, betapa dunia tidak adil, penantianku sia – sia,
penantianku tak terbayar. Tiba – tiba ada yang memegang bahuku, rio!
“maafin
aku reyfa, aku tak menyangka kalau soraya adalah sepupumu, perkawinan ini
sebenarnya adalah hutang budi, soraya telah mendonorkan darahnya untuk mamahku
saat kecelakaan disana, dan mamah menginginkanku untuk menikahi soraya dan jujurku
rey selama diamsterdam tak ada lain wanita yang aku ingat selain kamu” jelas
rio panjang lebar
“kalimat
itu sakit rio, sampai kapan pun kamu gak akan ngerti aku dan perasaanku, aku
suka kamu rio sejak pertama kita kenal di SMA, AKU CINTA KAMU RIO, SELAMA INI
AKU NUNGGU KAMU” aku menangis sesenggukan, rio menggenggam tanganku erat
“aku
pun begitu reyfa” jawab rio singkat
Aku
menyapu air mataku lalu berucap “kamu orang yang aku cinta, tak mungkin aku
menghancurkan kebahagian dan hari special orang yang aku cinta, berbahagialah,
aku rela rio”
“maafkan
aku reyfaa”
Sekian
Kamis, 25 April 2013
Judul pos
Meninggalkan
Aku
Sudah 15 menit aku menunggu Rian
diresto ini, Rian adalah teman akrabku semasa kuliah, hari ini aku dan dia
berjanji untuk bertemu membahas sebuah perihal dengan seorang temannya yang dia
janjikan, selama menunggu Rian aku ditemani secangkir whaite coffe dengan
kepulan asap aroma khas kopinya merasuki syaraf penciumanku. Disebelah whaite
coffeku ada pancake durian cantik yang bersanding. Sedap sekali. Tidak lama
kemudian terdengar suara sapaan dari belakangku
“hy, sudah lama??” Rian datang menyapa, dia masih berdiri tak
langsung duduk disampingku
“hy Yan, lumayan udah 15 menitan,
macet ya?” seraya aku langsung memisahkan cangkir yang menyatu dengan bibirku
untuk menyudahi hirupan kopi yang aku minum
“gak juga, oya An ini kenalin teman
yang aku ceritain sama kamu” Rian memperkenalkan seseorang yang berdiri disamping kananku.
Aku terkejut bukan kepalang,
darahku tiba-tiba berhenti mengalir, paru-paru dan nadiku tiba-tiba tak
berfungsi, jakun ditenggorokanku berat tuk menelan ludah, aku merasa tak ada
hembusan nafas dihidungku, aku seperti mati sejenak, orang yang saat ini aku
pandang kurang lebih ekspresinya sama denganku, dia terkejut kecil dan
tersenyum kaku.
“Namanya Febri” ucap Rian pelan, mungkin
Rian heran melihat aku dan Febri bertemu dan tidak bereaksi, hingga akhirnya Rian
yang harus memperkenalkan ulang Febri kepadaku.
“aku Ana, lengkapnya Ananta” aku
dan Febri saling bersalaman
“hy Ana, aku Feb.....” tidak sampai
habis Febri memperkenalkan dirinya karna aku nekat memotongnya
“kamu Febrian Ardhana, pernah
sekolah di SMAN 50, rumahmu diperkomplekan anggrek dan lain sebagainya tentang
kamu”
Rian tercengan melihatku yang sudah
tau banyak tentang Febri
“kalian sudah pada kenal?” Rian
terkejut
Aku dan Febri hanya tersenyum kecil
tak ada arti
“bagaimana aku tak mengenal Febri, bagaimana bisa aku melupakan Febri,
parahnya lagi bagaimana aku bisa membuang perasaan cinta terpendam selama 7
tahun lamanya terhadap Febri dari SMA hingga lulus kuliah seperti sekarang”
gumanku dalam hati atas pertanyaan Rian.
Suasana mencair, kita bertiga mulai
berbicara keinti pembahasan kenapa bertemu hari ini
“aku baru selesai menulis sebuah naskah,
hingga akhirnya Rian memberitahukanku bagaimana kalau naskahku diberikan
kepenerbit tuk dinovelkan, eh gak taunya kamu editornya” aku tertawa kecil
“iya, Rian ada cerita dengan aku,
tapi sebelumnya aku gak nyangka kalau itu kamu Na” ujar Febri sambil meminum
orange floatnya.
Pertemuan hari ini berakhir dengan
janjiku bertemu Febri 3 hari lagi tuk memberikan naskah novelku diresto ini
kembali.
“oke, aku duluan ya” sapaku saat
diparkiran resto untuk pulang keapartemen
“take care Na” sahut Rian
Aku mengangguk dan melihat Febri dari
jendela mobil yang terbuka, dia hanya menatapku lekat, sama percis tatapan itu
seperti dia dulu meninggalkanku.
*****
Aku menangis lagi,
terpukul dan aku terisak lagi, sepertinya alam turut merasakan apa yang aku
rasakan saat ini, ditingkat yang ke 20 apartemenku aku lihat hujan membasahi
setiap sudut kota ini, air turun dengan pasrah dan berbenturan dengan tanah
lalu menciptakan percikan irama indah, irama paling menenangkan hati bila
menghayatinya dengan memejamkan mata, aku duduk bersandar disamping jendela menatapi
titik-titik air itu yang bergerombol turun dari langit, sejurus ingatan saat
bersama Febri dulu terulang kembali lebih lekat, aku dan Febri pernah saling
menyukai, degupan jantung atas rasa cinta dulu aku rasakan kembali, ada
beberapa yang tak pernah aku lupakan darinya sampai sekarang, aku selalu
bahagia dan tersenyum tiap kali dia menyapa namaku, aku selalu bahagia saat dia
bercerita dan sedih saat dia berkeluh kesah kepadaku hingga menangis atas
masalahnya, dia mampu membuatku berarti bagi hidupnya, aku selalu menjadi tidak
karuan apabila mataku dan matanya saling bertabrakan saat mencuri pandangan dikelas.
Perempuan mana yang tidak merasakan cinta dari seorang pria atas prilakunya
yang menenangkan dan menyenangkan. Hingga akhirnya terciptalah rasa sayang. Air
mataku semakin deras hingga akhirnya mengingat saat Febri meninggalkanku tanpa
sempat mengatakan atas sebuah rasa yang selama itu kita berdua rasakan. Saat
itu dia meningglkanku sendiri dengan sejuta tanya, aku melanjutkan kehidupan
tanpa ada dia lagi, perpisahan itu mampu membuatku berjuang tuk menampikan
dengan sekuat tenaga untuk menghapus bayang dirinya.
*****
Tepat pukul 3 sore, Febri
sudah terlebih dahulu datang menungguku diresto ini
“aku memakai hem biru malam”
seperti itulah pesan blackberry messenger yang aku terima sebelum aku berangkat
untuk menemui Febri.
Kebetulan sekali resto tidak
terlalu ramai jadi aku mudah mendapatkanya, aku melangkah dengan detak jantung
tak menentu saat menghampirinya, senyumnya tak ada yang berubah sama seperti
dulu saat aku bersamanya, bau parfumnya tetap sama pula. Aku mencoba
mengendalikan diri saat aku duduk dihadapanya.
“walau tidak semua, tapi awalnya
dah rame banget kok Na” ujar Febri mengakhiri membaca naskah novelku
“kok awalnya aja, baca semua kali” aku
menggerutu
“baca naskahmu bisa kapan aja, dikantor
juga bisa, tapi ketemu denganmu lagi kaya gini adalah saat yang istimewa” Febri
tersenyum
Aku terbatuk sedikit menyemburkan
tak sengaja lemon tea yang aku minum saat Febri mengatakan itu, Febri merasa
bersalah dia mencoba menghapus sisa air dibibirku dengan tisu, tapi aku
mengelak seraya berkata
“aku baik-baik aja Feb” dengan
wajah yang aku palingkan
“sorry..” jawab Febri pelan dan menyesal
“oke kalau begitu, aku pamit duluan
ya, call me aja tuk perkembangan selanjutnya” aku beranjak pamit lalu terhenti
saat Febri berkata
“harus secepat ini ya? Sejak
pertemuan ini kembali kenapa aku tidak menemukan sosok Ananta yang dulu, kenapa
kamu terlalu dingin” Febri mencoba membuatku mengingat
“atas pertanyaanmu kenapa harus
secepat ini, kenapa aku bukan Ananta yang dulu lagi terhadapmu, kenapa aku
dingin, itu semua terjawab dari pertanyaan kenapa dulu kamu meninggalkan aku”
aku berpaling dan berlalu meninggalkan Febri dengan tangis yang aku tahan.
*****
Tirai pink jendelaku menari
nari tertiup angin pagi, hangat mentari menciumi pipiku, pelan aku membuka mata
dari tidur, bibirku tersenyum, hatiku bahagia mengingat mimpiku tadi malam
bersama dia yang dulu pernah aku cinta, Febri. Tapi semua itu sirna mengingat Febri
yang sudah seminggu ini tidak menghubungiku atas kelanjutan novelku itu. Tak
lama kemudia blackberry messengerku berbunyi, Febrian Ardhana seperti itulah nama
dikontak dengan pesan “pagi ini pukul 9 aku tunggu diresto seperti biasa”.
*****
1 gelas air mineral dan pizza mini sudah
habis aku makan, tepat 1 jam aku sudah menunggu Febri disini tapi Febri belum kunjung
datang, aku urung menghubunginya.
“Ana...”
ada Rian disini
“hy
Rian, kok kamu disini? Aku lagi nunggu Febri nih, lama banget wah kebetulan
gabung aja yuk” aku sedikit terhibur dengan kedatangan Rian
“oleh
karena itu aku kesini untuk ngasih tau kamu Febri tabrakan saat menuju kesini”
ujar Rian mengejutkan, aku tercengang, saat itu juga aku seperti tak berpijak dibumi
“aku
tau kamu disini saat aku menghubungi Febri sebelum dia pergi tuk menemui kamu”
jelas Rian, tapi aku tetap saja diam, shok tak tau harus bagaimana, seraya Rian
langsung membawaku kemobil tuk menemui Febri dirumah sakit.
*****
Aku masuk keruangan
tempat Febri terbaring, ada infus dan lingkaran perban dikepalnya, aku lihat ada
papah dan tante Vira mamahnya Febri yang sedang menangis.
“Anantaaa...” tante Vira pun menghampiriku
saat aku berjalan menuju Febri, aku hanya tersenyum tegar
“kamu cantik, sama seperti difoto
dan tulisan cerita-cerita Febri dibuku agendanya tentang kamu” ujar ibu itu
terlihat sedih
“foto?? Tulisan cerita??? Agenda???”
aku bingung tanda ketidak tahuanku atas ungkapan tante Vira
“Anantaa.. Febri banyak cerita
tentang kamu kepada ibu, dia banyak menulis cerita tentang kamu disebuah agenda
kecil miliknya yang diceritakan agenda itu adalah pemberian dari kamu saat SMA,
Ananta adalah wanita yang dicintai Febri sejak dulu, Febri selalu mengeluh kenapa
dia selalu tak mampu mengungkapkan rasa cinta itu kepada kamu nak, dia sangat
mencintaimu” jelas tante Vira kepadaku.
Air mataku berlinang mendengar
pernyataan itu, aku pandang Febri yang terbaring lemah tak sadarkan diri, aku
memandangnya wajah teduh dan tampannya lekat penuh harap agar dia sadar.
*****
Febri sadar tetapi
keadaanya masih lemah.
“ini permintaan terakhir aku, aku
tak ingin menghabiskan waktuku disini, aku ingin pulang menghabiskan waktuku
bersama papah mamah dan dia” ujar Febri dengan suara lemah seraya menatapku,
tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Febri walau sebenarnya dia
belum diperbolehkan pulang.
Sesampainya
dirumah aku memapah Febri menuju kamarnya, aku tercengang melihat ada fotoku
bersamanya terbingkai disamping tempat tidurnya, foto saat SMA.
“kamu istirahat ya?” ujarku
menyelimutinya
“kamu jangan kemana mana tetaplah
disini, karan aku tak sanggup pisah darimu lagi”
“aku gak kemana mana, aku disni
kok, jagain kamu sampai sembuh” ucapku setegar mungkin menghibur
“aku gak sakit, yang sakit cuman
hati aku atas kamu” ada air mata yang mengalir dari sudut mata kanan Febri
“iya, kita obati sama sama ya atas
sakitnya hati kamu sama hati aku” aku seraya keluar meninggalkan Febri dikamar,
aku menangis sejadi jadinya dan berguman “Febri, aku mencintaimu”
*****
“selamat pagiii” aku masuk kekamar Febri
membawakan sarapan, aku temui dia sedang duduk bersandar diranjang.
“aku ingin kita pantai pagi ini”
pinta Febri pagi ini kepadaku
“tapi kamu belum sembuh” elakku
seraya meletaka nampan yang berisi semua sarapan pagi Febri dimeja samping
tempat tidurnya
“tapi aku ingin kesana sekarang”
paksanya
Apalah daya, dengan izin kedua
orang tua Febri, Febri dan aku kebukit saat itu juga.
Sesampainya dipantai, disini aku
duduk berdua dengan Febri, sama seperti dulu yang sering kita berdua lakukan
saat berlibur akhir pekan. Sungguh saat itu juga aku ingin menangis
mengingatnya lalu aku lihat Febri kedinginan
“kamu kedinginan?” aku mencoba
melakukan sesuatu tapi Febri menghalangi
“tenang aja, aku gak apa-apa” jawab
Febri tenang tapi terlihat dari wajahnya dia sedang menahan dingin dan sakit
“tidakkah kau mengungkapkan itu kepadaku Na?” sambung
Febri
“aku perempuan” jawabku singkat
lalu kupandang wajahnya, tidak tau dari mana sejurus aku langsung mendapatkan keberanian
untuk berbicara
“Febri.. aku mencintaimu dari dulu,
aku menyayangimu, kamu gak tau betapa sakitnya aku saat kamu pergi ninggalin
aku, kamu gak tau betapa tertatihnya aku saat kamu gak ada Feb dan kamu tau
betapa bahagianya aku tuhan mengembalikanmu lagi yang sempat hilang”
Febri tak ada jawaban, lalu dia
memelukku dan berkata
“kamu ingat dulu kita sering berdua
duduk disini saat SMA tiap akhir pekan?”
Aku mengangguk
“dan aku takutnya ini adalah bukan
akhir pekan tetapi terakhir aku bersamamu” Febri melanjutkan perkataanya, lalu
aku mencoba melepas pelukannya tetapi Febri terlalu erat memelukku
“maafkan aku An yang dulu sempat
meninggalkanmu tuk pergi keluar negri dan tidak sempat mengungkapkan rasa cinta
itu, tapi satu hal yang harus kamu tau, selama ini cuman kamu yang ada, yang
aku ingat, cuman kamu dipikiranku, kamu gak pernah pergi dari ingatan aku, maafkan
aku, maafkan aku yang lemah, aku bahagia pernah megenal dan dekat denganmu,
sakiit Na, jujur selamatkan aku, aku sungguh ingin bersamamu” suara Febri
tertatih
Air mataku deras mendengar ucapan Febri
dipelukku, tak lama kemudian detak jantungnya takku rasa berdegup
“Febri.. Febrian” aku memanggil Febri
lirih dengan isak tangisku, tidak ada jawaban disitu, aku mengeratkan pelukan
ini lalu berkata
“kalau dulu kamu pernah pergi meninggalkan
aku Feb, mungkin aku bisa mencarimu, tetapi ini kamu meninggalkan aku kembali
dan kemana aku harus mencarimu?”
Pergi Saja
“hay, jangan ngambek, kalau kamu ngambek
jeleknya jadi 5 kali lipat” seryl mencoba menghiburku
“tapi itukan jurusan yang aku inginkan ser”
aku menatap mata seryl lirih putus asa
Seryl
semakin menatap mataku, tangan kanannya semakin erat menggengam tanganku dan
tangan kirinya memegang pundakku seakan memberi energy kekuatan
“apa
pun yang terjadi kita harus sama – sama kuliah disini, aku bakal bantu kamu,
kamu pasti bisa, ayo belajar lebih giat lagi, kamu coba tes dikampusku ya”
seryl tersenyum, tulus. Aku hanya menatap bola matanya yang coklat tanpa
sanggup untuk berkata, mungkin saat ini hanya hatiku saja yang memiliki tenaga
untuk berbicara
beruntung
aku memiliki kekasih seperti kamu ser, terimakasih sudah memberiku kekuatan,
aku akan berjuang supaya kita bisa kuliah disini sama – sama.
hatiku berguman dan aku hanya tersenyum padanya.
***
Sedihku
terbayar, mata seryl berbinar bahagia, dia memelukku erat didepan papan
pengumuman ini yang memberikan keterangan bahwa aku dan seryl lulus satu
universitas.
Disinilah, dikota inilah kisah cintaku
penuh cerita, berangkat sama – sama dari kota asal kekota tujuan untuk kuliah,
penuh keyakinan bisa kuliah bersama walau sebelumnya aku merasa hampir putus
asa karena tidak lulus dikampus dan jurusan yang aku inginkan, kalau bukan
tangan seryl yang menarikku untuk bertahan, mungkin aku sudah mundur. Aku dan
seryl sudah menjalin kasih selama 2 tahun sejak SMA, aku sangat menyayangi
wanita ini, tak mudah saat SMA aku mendapatkannya, tak sia – sia susahnya aku,
karena sekarang sesuai dengan kasih sayangnya yang dia berikan kepadaku.
“haaahhh, beres” serly menepuk – nepukkan
tangannya.
“sudah beres, kamarnya harus dirapiin
terus lo ya” ujarku saat kita bersender didinding kamar.
“bersih – bersih itukan cape sayaang,
jadi ntar biar sebulan sekali aja aku bersihin kamar ini” ejek seryl kepadaku
dengan mengeluarkan sedikit lidahnya menjengkelkan.
“heehh
cewek jelek” aku mengacak - acak rambutnya. Kami berdua pun tertawa.
Lepas
dari itu semua. Hari ini melelahkan tapi menyenangkan, dari beli kasur, tv,
kompor aku dan seryl berdua lakukan bersama, gak perduli hujan atau apa
pun, yang penting dalam fikiran kita
“aku akan persiapkan semuanya disini bersama kamu”
***
Tak
terasa sudah 1 tahun kami kuliah, aku seakan hanya mempunya seryl disini,
teringat saat bersama – sama memesan tiket pesawat untuk pulang, dan kami tidak
mendapatkan bangku bersama, dengan usaha kerasku untuk meminta kepada penjual
tiket bahwa kita harus duduk bersama dengan alasan
“kita
harus duduk bersama pak.. dia ini sakit – sakitan, kalau dia kenapa – kenapa
dipesawat saya jauh siapa yang harus nanganin dia”
Aku
lihat seryl hanya sekuat tenaga menahan senyum dan menginjak kakaiku dibawah
meja menahan tawa, alhasil aku dan seryl mendapakan satu tempat duduk
dipesawat.
Saat
bulan puasa itu, pukul setengah 2 dini hari aku datang kekost seryl, hanya
untuk belanja kepasar dan memasak bareng untuk sahur, saat itu aku masak
dikostnya, aku lihat seryl begitu konsen memasak, naluri jahilku bangkit, aku
tiup tepung kemukanya, dia jengkel coba membalas tapi aku menghindar hingga dia
menarik tanganku dan menghamburkan tepung dari atas kepala hingga mukaku, tak
ada yang lain kecuali saos tomat disitu hingga aku kontak mengambil dan
menumpahkan isinya kebaju seryl, tak mau kalah seryl mengoleskan kecap dimukaku
hingga kita tertawa lepas dan sahur dengan kondisi berantakan, saling tertawa
menyadari betapa jeleknya satu sama lain.
Saat itu, sepulang dari mall aku dan
Sheryl disrempet motor dari samping, aku dan seryl terjatuh, aku bergegas
menghampirinya memastikan bahwa dia tak apa, seryl menatapku tanpa ekspresi,
aku takut kalau dia kesakitan, tiba – tiba dia tertawa sambil memegang
lututnya, aku bingung.. “ kamu gak papa, knpa ketawa??” tanyaku
“Kamu terjelek yang pernah aku lihat
tau” seryl makin tertawa
“kenapaa” tanyaku bingung
“mukamu
hitam kena tanah” renyah sekali tawa
seryl seakan tak ada sakit disitu saat kami jatuh seperti ini
Aku balas
tertawa dan mungkin jauh lebih dari tertawa seryl
“kamu tercantik
yang pernah aku lihat” ujarku dengan tertawa lepas
Sekarang gantian
seryl yang bingung
“ rambutmu penuh lumpur, sayaanggg”
ujarku terbahak, kita saling tertawa, tidak merasakan sakit saat terjatuh
seperti ini tak pula menyalahkan siapa – siapa, bagi kami ini lucu tak jadi
masalah.
***
“kamu gak ngerti aku banget sih, udah ah
capek tau gak bahas ini seharian”
“dengerin aku dulu dong, akukan gak tau
apa2” belum selesai aku berbicara seryl telah mematikan HPnya, entah kenapa
seharian ini seryl marah denganku.
Kembali
untuk kesekian kalinya aku memperhatikan tanggal dan jam “ini sudah jam setengah 11 malam dan tanggal 22 April, dia belum
mengucapkan apa – apa, apa dia lupa hari ini ulang tahunku” aku membatin.
aku
mencoba datang kekost dia meminta maaf dan mengklarifikasi keadaan ada apa
sebenarnya. Sesampai ditempat seryl pintu kostnya tertutup rapat, hordennya pun
begitu, aku mencoba mengetuk pintu kamarnya tak ada jawaban, aku sangat yakin
dia benar – benar marah kepadaku, berlahan aku buka pintu kamarnya dan tak
terkunci, aku kaget setengah mati, tak percaya dengan apa yang aku lihat,
disitu banyak lilin – lilin bernyala membentuk jalan, aku menyusuri lilin itu
dan mengibas pelan sebuah horden, seakan tak percaya dengan apa yang dilihat,
nafasku tertahan, disitu aku dapati ada lilin berbentuk love bertuliskan
ditengahnya “ I LOVE U” tiba – tiba dari belakang seseorang menutup mataku dan
menyatakan “selamat ulang tahun sayang”
Aku berbalik dan aku dapati seryl
membawa tart, dia cantik malam ini, aku sungguh tak bisa berkata apa – apa
hingga dikostku aku hanya menangis, betapa kejutan yang luar biasa, betapa aku
sangat menyayanginya.
***
Entah
kenapa akhir – akhir ini seryl susah diajak untuk makan bersama, tapi bagiku
itu tak jadi masalah karena aku tau dia lagi sedang banyak tugas – tugas
kampus.
“aku
pinjam laptop seryl” pintaku saat sore hari dikostnya selepas pulang kuliah,
aku terkejut menelan ludah wellpapper apa dilayar laptopnya, dikebun teh aku
lihat pose seryl bersama seorang lelaki, tak aku hiraukan mungkin itu hanya
temannya.
Selepas pulang kampus aku ingin mengajak
seryl makan, dari ajakanku itu seryl berkata sedang tidak ada dikost dan lagi
diluar, aku memutuskan untuk menunggu dikostannya, aku duduk dipinggir
kostannya terhalang tembok, 3 jam aku menunggu dia tak kunjung datang, aku
mendengar orang membuka alu aku
melihatnya berlahan, tak percaya dengan ini ternyta sedari tadi seryl ada
dikostannya, dia keluar bersama lelaki yang ada diwellpapper laptopnya yang aku
lihat saat itu, lelaki itu pun pulang dan aku menghampiri seryl, seryl terkejut,
dihadapannya aku bungkam seribu bahasa, aku menahan sejuta rasa sakit,pedih dan
sedih.
***
“maumu apa” malam itu digerbang kampus
aku tak bisa menahan emosiku
“gak usah pake emosi gilang” seryl pun
marah
“ antara aku dan dia, kamu harus pilih,
bilang kalau kamu gak sayang aku lagi, sampai kapan kamu mau main dibelakang
aku” suaraku meninggi dengan tangis yang tertahan
“aku muak dengan kamu” seryl pergi dan
berpaling
Aku pun berpaling dan berjalan
mengihndarinya, ntah apa yang mebuatku ingin menemuinya kembali hingga aku
memutuskan untuk berbalik dan mengejarnya, tak ada, dia tak aku dapati lagi,
dia tiba – tiba hilang dengan cepat, aku jalan dan berlari mencarinya tak
peduli seberapa larut sudah malam ini, hingga aku memutuskan untuk sms
memastikan dia dimana, langkahku pelan lunglai berhenti mengetahui dia bersama
lelaki itu saat ini.
***
Sudah
2 tahun ini berlalu, aku dan seryl tidak saling berhubungan lagi, aku merelakan
segalanya, dan mengubur dalam – dalam ingatanku bahwa dia yang memperjuangkan
aku agar dapat kuliah bersama disini.
Langganan:
Postingan (Atom)