Saat
melihat kedua mempelai itu tiba – tiba kenangan dulu tanpa beraturan menyesaki
otakku…
Menit
pertama, saat itu tangankulah yang pertama kali dia jabat, suara itu akrab
membujuk diri berkeinginan untuk semakin mendekat, saat itu senyumnya damai berbalut
manis, tatapan itu saling memasuki retina masing – masing beradu hingga
bermunculanlah diskusi hati yang masih mudah untuk diabaikan.
Menit
ketiga, dulu ada kekuatan yang dipaksakan disertai malu dan suara yang pelan
serta berhati – hati memanggil namaku “Reeyyy…” lalu aku menoleh kearah suara,
penglihatan mata memberi aliran listrik yang dirasa pada hatiku membuatku
bahagia, ya hanya dengan “panggilan
namaku itu”. Aku hanya tersenyum, senyum yang didalamnya penuh kebahagian,
penuh tanya ada apa??, penuh pengungkapan “rio
memanggilku”. “bisa bantu aku untuk menyelesaikan soal nomer 2 dengan rumus
ini?”. Mungkin tak usah aku jabarkan betapa bahagianya aku saat itu, duduk
berdua, saling menyelesaikan soal pelajaran, selesainya kita berbagi cerita,
dia tak perlu tau saat itu betapa aku menyukai senyumnya, leluconnya dan semua
tanya dari dia tentang diriku.
Menit
kelima, aku ingat dulu didalam kelas saat pelajaran, mata kami saling beradu,
bertatap selalu tanpa sengaja. Selepas pulang dari kantin langkahku terhenti
karna ada yang memanggil namaku dari tengah lapangan basket “reeyfaa”, aku
hanya tersenyum dan menaikan alis memberi isyarat “ada apa rio?” rio hanya tersenyum menggeleng sembari memainkan bola
basket yang ada ditangannya dan aku berlalu dengan sisa suara
“cciiiiiiiieeeeeeeeeee” dari anak – anak basket yang ada dilapangan saat itu
juga.
Menit
ketujuh, “udahaan ah rioo, malu tau, akukan jelek!” rio tak menghiraukan, blits
cameranya tetap menyerang wajahku, dia asik sekali dengan kerjaannya seperti
ini, aku semakin tak enak, aku memegang tangannya untuk menurunkan kamera yang
ada didepan mukanya, tanpa sadar ternyata saat itu aku telah menyentuh
tangannya, lalu buru – buru melepaskan, ada senyum gugup dibibirku dan bibir
rio saat itu, ditengah alang – alang itu kita duduk bersampingan, dekat. “kamu
tau apa alasanku seperti ini” ujar rio masih memegang cameranya, “apaa?”
jawabku singkat menikmati angin yang memainkan rambut pirangku, dia menunjukkan
hasil foto – fotoku didisplay cameranya,”aku suka segalanya yang ada di kamu
reyfa, aku suka semua yang alami dari kamu, aku suka merah alami dibibir
tipismu, aku suka pipi merahmu, aku suka wajah putih alamimu, aku suka rambut
pirang alamimu, dan aku tau semua tanpa olesan make up dan aku suka kecerdasan serta
kesopan yang kamu miliki”. Saat itu pulalah aku tertegun bahagia, lelaki yang
aku sukai ini mengungkapkan itu padaku, “tidakkah
kamu mengungkapkan rasa hatimu dengan aku rio” hatiku berguman
Menit
kesepuluh, “kamu mau kemana? Inikan jam mata pelajaran yang kedua” aku bertemu
rio dikoridor sekolah membawa tas ranselnya, tiba – tiba rio memegang pipiku,
tanpa senyum , seperti ada yang retak dimatanya, ya air mata yang siap menetes,
aku bingung. “kenpaa?” aku memegang tangan rio yang masih dipipiku, “kamu mau
kemana” saat itu rasa hatiku tak karuan, seakan sebentar lagi ada sesuatu yang
aku cinta dan dia siap meninggalknku, rio mengambil tangan kananku, meletakkan
sesuatu dan jemari rio menuntun jemariku untuk menutup apa yang dia berikan,
berlahan aku buka, cincin! “maksudnya?” aku bingung, tanpa penjelasan rio
langsung berlalu, “rioooo” aku berlari mengejarnya “jelasin keaku kamu kenapa,
mau kemana, kamu mau ninggalin akuu?”tnpa sadar air mataku mengalir. “bila kita
jodoh kita pasti ketemu lagi, kita pasti sama – sama lagi bahkan mungkin akan
lebih dari ini, lebih dari teman” itulah ungkapan rio yang terakhir dan aku
hanya menjawabnya dengan air mata
Sekarang
dan saat ini aku tersadar, itu dulu saat SMA dan sekarang aku bertemu rio
kembali, dia tepat dihadapanku, jarakku dengan dia tak lebih dari 15 cm, dia
tampan sekali menggunakan jas berdasi, namun aku rapuh, namun aku hancur.
“selamat
ya rio, aku ikut bahagia, kalian cocok, kalian serasi” aku menyalami tangan rio
dengan jari manis tangan kananku yang masih melingkar cincin pemberian rio
dulu, aku lirih berbalut hati yang kuat dan mata yang aku tahan untuk tidak
menjatuhkan mutiara dari dalamnya, rio hanya tertegun, ada raut tak rela dari
wajahnya.
“reyfaa
sayaang makasih sudah datang yaa.. hari ini aku seneng banget” soraya memeluk
dan menciumiku saat aku dimempelai wanita, istrinya rio dan tepatnya soraya
adalah sepupu jauhku yang setelah lulus SMA berkuliah damsterdam lalu bertemu
dengan rio disana. Aku kembali menatap rio, hatiku hancur, orang yang selama
ini aku tunggu ternyata tak untuk aku.
Aku
langsung berlari keluar ruangan menuju halaman belakang gedung, sejadi –
jadinya aku menangis disana, betapa dunia tidak adil, penantianku sia – sia,
penantianku tak terbayar. Tiba – tiba ada yang memegang bahuku, rio!
“maafin
aku reyfa, aku tak menyangka kalau soraya adalah sepupumu, perkawinan ini
sebenarnya adalah hutang budi, soraya telah mendonorkan darahnya untuk mamahku
saat kecelakaan disana, dan mamah menginginkanku untuk menikahi soraya dan jujurku
rey selama diamsterdam tak ada lain wanita yang aku ingat selain kamu” jelas
rio panjang lebar
“kalimat
itu sakit rio, sampai kapan pun kamu gak akan ngerti aku dan perasaanku, aku
suka kamu rio sejak pertama kita kenal di SMA, AKU CINTA KAMU RIO, SELAMA INI
AKU NUNGGU KAMU” aku menangis sesenggukan, rio menggenggam tanganku erat
“aku
pun begitu reyfa” jawab rio singkat
Aku
menyapu air mataku lalu berucap “kamu orang yang aku cinta, tak mungkin aku
menghancurkan kebahagian dan hari special orang yang aku cinta, berbahagialah,
aku rela rio”
“maafkan
aku reyfaa”
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar