i'am so special

Senin, 13 Mei 2013

segalanya dalam 10 menit



Saat melihat kedua mempelai itu tiba – tiba kenangan dulu tanpa beraturan menyesaki otakku…
Menit pertama, saat itu tangankulah yang pertama kali dia jabat, suara itu akrab membujuk diri berkeinginan untuk semakin mendekat, saat itu senyumnya damai berbalut manis, tatapan itu saling memasuki retina masing – masing beradu hingga bermunculanlah diskusi hati yang masih mudah untuk diabaikan.
Menit ketiga, dulu ada kekuatan yang dipaksakan disertai malu dan suara yang pelan serta berhati – hati memanggil namaku “Reeyyy…” lalu aku menoleh kearah suara, penglihatan mata memberi aliran listrik yang dirasa pada hatiku membuatku bahagia, ya hanya dengan “panggilan namaku itu”. Aku hanya tersenyum, senyum yang didalamnya penuh kebahagian, penuh tanya ada apa??, penuh pengungkapan “rio memanggilku”. “bisa bantu aku untuk menyelesaikan soal nomer 2 dengan rumus ini?”. Mungkin tak usah aku jabarkan betapa bahagianya aku saat itu, duduk berdua, saling menyelesaikan soal pelajaran, selesainya kita berbagi cerita, dia tak perlu tau saat itu betapa aku menyukai senyumnya, leluconnya dan semua tanya dari dia tentang diriku.
Menit kelima, aku ingat dulu didalam kelas saat pelajaran, mata kami saling beradu, bertatap selalu tanpa sengaja. Selepas pulang dari kantin langkahku terhenti karna ada yang memanggil namaku dari tengah lapangan basket “reeyfaa”, aku hanya tersenyum dan menaikan alis memberi isyarat “ada apa rio?” rio hanya tersenyum menggeleng sembari memainkan bola basket yang ada ditangannya dan aku berlalu dengan sisa suara “cciiiiiiiieeeeeeeeeee” dari anak – anak basket yang ada dilapangan saat itu juga.
Menit ketujuh, “udahaan ah rioo, malu tau, akukan jelek!” rio tak menghiraukan, blits cameranya tetap menyerang wajahku, dia asik sekali dengan kerjaannya seperti ini, aku semakin tak enak, aku memegang tangannya untuk menurunkan kamera yang ada didepan mukanya, tanpa sadar ternyata saat itu aku telah menyentuh tangannya, lalu buru – buru melepaskan, ada senyum gugup dibibirku dan bibir rio saat itu, ditengah alang – alang itu kita duduk bersampingan, dekat. “kamu tau apa alasanku seperti ini” ujar rio masih memegang cameranya, “apaa?” jawabku singkat menikmati angin yang memainkan rambut pirangku, dia menunjukkan hasil foto – fotoku didisplay cameranya,”aku suka segalanya yang ada di kamu reyfa, aku suka semua yang alami dari kamu, aku suka merah alami dibibir tipismu, aku suka pipi merahmu, aku suka wajah putih alamimu, aku suka rambut pirang alamimu, dan aku tau semua tanpa olesan make up dan aku suka kecerdasan serta kesopan yang kamu miliki”. Saat itu pulalah aku tertegun bahagia, lelaki yang aku sukai ini mengungkapkan itu padaku, “tidakkah kamu mengungkapkan rasa hatimu dengan aku rio” hatiku berguman
Menit kesepuluh, “kamu mau kemana? Inikan jam mata pelajaran yang kedua” aku bertemu rio dikoridor sekolah membawa tas ranselnya, tiba – tiba rio memegang pipiku, tanpa senyum , seperti ada yang retak dimatanya, ya air mata yang siap menetes, aku bingung. “kenpaa?” aku memegang tangan rio yang masih dipipiku, “kamu mau kemana” saat itu rasa hatiku tak karuan, seakan sebentar lagi ada sesuatu yang aku cinta dan dia siap meninggalknku, rio mengambil tangan kananku, meletakkan sesuatu dan jemari rio menuntun jemariku untuk menutup apa yang dia berikan, berlahan aku buka, cincin! “maksudnya?” aku bingung, tanpa penjelasan rio langsung berlalu, “rioooo” aku berlari mengejarnya “jelasin keaku kamu kenapa, mau kemana, kamu mau ninggalin akuu?”tnpa sadar air mataku mengalir. “bila kita jodoh kita pasti ketemu lagi, kita pasti sama – sama lagi bahkan mungkin akan lebih dari ini, lebih dari teman” itulah ungkapan rio yang terakhir dan aku hanya menjawabnya dengan air mata
Sekarang dan saat ini aku tersadar, itu dulu saat SMA dan sekarang aku bertemu rio kembali, dia tepat dihadapanku, jarakku dengan dia tak lebih dari 15 cm, dia tampan sekali menggunakan jas berdasi, namun aku rapuh, namun aku hancur.
“selamat ya rio, aku ikut bahagia, kalian cocok, kalian serasi” aku menyalami tangan rio dengan jari manis tangan kananku yang masih melingkar cincin pemberian rio dulu, aku lirih berbalut hati yang kuat dan mata yang aku tahan untuk tidak menjatuhkan mutiara dari dalamnya, rio hanya tertegun, ada raut tak rela dari wajahnya.
“reyfaa sayaang makasih sudah datang yaa.. hari ini aku seneng banget” soraya memeluk dan menciumiku saat aku dimempelai wanita, istrinya rio dan tepatnya soraya adalah sepupu jauhku yang setelah lulus SMA berkuliah damsterdam lalu bertemu dengan rio disana. Aku kembali menatap rio, hatiku hancur, orang yang selama ini aku tunggu ternyata tak untuk aku.
Aku langsung berlari keluar ruangan menuju halaman belakang gedung, sejadi – jadinya aku menangis disana, betapa dunia tidak adil, penantianku sia – sia, penantianku tak terbayar. Tiba – tiba ada yang memegang bahuku, rio!
“maafin aku reyfa, aku tak menyangka kalau soraya adalah sepupumu, perkawinan ini sebenarnya adalah hutang budi, soraya telah mendonorkan darahnya untuk mamahku saat kecelakaan disana, dan mamah menginginkanku untuk menikahi soraya dan jujurku rey selama diamsterdam tak ada lain wanita yang aku ingat selain kamu” jelas rio panjang lebar
“kalimat itu sakit rio, sampai kapan pun kamu gak akan ngerti aku dan perasaanku, aku suka kamu rio sejak pertama kita kenal di SMA, AKU CINTA KAMU RIO, SELAMA INI AKU NUNGGU KAMU” aku menangis sesenggukan, rio menggenggam tanganku erat
“aku pun begitu reyfa” jawab rio singkat
Aku menyapu air mataku lalu berucap “kamu orang yang aku cinta, tak mungkin aku menghancurkan kebahagian dan hari special orang yang aku cinta, berbahagialah, aku rela rio”
“maafkan aku reyfaa”
Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar